*Menikmati buah semangka di pos Cemoro Kandang bersama Angga & Bang Boing
14.21 Sampailah kami di pos Cemoro
Kandang, tidak lama kami beristirahat disini, setelah 7 menit rehat kami melanjutkan
kembali perjalanan. Sesuai dengan namanya, mulai dari pos ini di sepanjang trek
dipenuhi dengan pohon cemara dan juga tumbuhan semak.
Udara
terasa sangat sejuk disini karena memang ketinggiannya sudah berada pada
2500mdpl. (FYI ketinggian puncak pas Bogor,
Jawa Barat itu berada pada 1300-1600mdpl untuk perbandingan). Selain
itu kesejukan juga dikarenakan hembusan angin & sinar matahari yang
terhalang rindangnya pohon cemara. Trek setelah Cemoro Kandang ini lama-
kelamaan akan menanjak, karena melewati lereng bagian bawah dari Gunung Kepolo (gunung yang terlihat di arah selatan dari oro-oro
ombo).
*Gunung Semeru yang gagah terlihat dari pos Jambangan
15.58 Tibalah kami di pos Jambangan,
disini terhampar padang rumput luas
yang juga ditumbuhi bunga edelweis. Dari
Jambangan Gunung Semeru tampak
sangat jelas menjulang tinggi dengan
sesekali terdengar gemuruh dari
semburan Jonggring Saloko (nama kawah
Gunung Semeru). Trek dari
jambangan menuju kalimati cenderung menurun dengan
kontur tanah landai.
*terlihat pohon terikat kain putih di samping papan Pos Kalimati, itu merupakan tanda adanya penunggu makhluk dari dimensi lain pada pohon tersebut, dari sebuah kepercayaan masyarakat. Banyak pohon yang diikat kain serupa di area ini.
16.29 Setelah berjalan setengah
jam, sampailah kami di camp ground terakhir Pos Kalimati
yang merupakan titik akhir pendakian jika
sesuai perjanjian kita dalam form pendakian bermaterai. yang mana jika kita memutuskan
naik ke punggung Semeru untuk menggapai puncaknya adalah menjadi pilihan
pribadi. Dan tidak bisa klaim asuransi yang include dalam
tiket pendakian semeru jika terjadi accident.
Untuk gue pribadi sudah memutuskan untuk mencoba mendaki ke puncak Gunung Semeru malam nanti, tentu dengan segala macam resiko di dalamnya. Kumpulan tekad dan latihan, baik raga maupun mental akan gue uji disini, tidak lupa tentu dengan terus memohon pertolongan dari sang Pencipta Alam Raya, karena tanpa izin & pertolonganya gue ini tak punya daya dan upaya.
Saat sampai di Kalimati tiba – tiba kabut datang menyelimuti, gue pun mendirikan tenda dan memasukan barang kedalamnya, yang kemudian dilanjut dengan memasak air untuk membuat minuman hangat dan menyimpan beberapa mililiter kedalam thermos (thermos atau insulated bottle yang mumpuni gue rasa sangat perlu untuk kenyamanan mendaki gunung, karena jika dengan gelas/botol biasa kurang dari 10 menit air mendidih sudah dingin kembali).
Gue mendirikan tenda tepat disamping tenda tim Bang boing yang saat itu anggotanya belum lengkap, karena masih tertinggal Yadi & nadia saat berjalan menuju kalimati. Kami mendirikan tenda + 25 meter dari papan tanda Pos Kalimati, yang kalau umumnya pendirian kemah dilakukan dekat shelter kalimati yang berjarak + 240 meter kearah tenggara dari papan tanda Pos Kalimati tadi. Kami memilih tempat ini karena viewnya menghadap ke Semeru langsung.
saat gue masak air kabut tiba-tiba hilang dan gue malah khilaf berfoto di temani tripod. “eLLLL, makan dulu eL . .!” terdengar seru si Angga (“iiihhh perhatian bangettt si kalian :D wkwkwk”, (itulah salah satu keindahan yang gue temukan saat mendaki gunung, bukan hanya view dari landscapenya yang keren tapi juga dari rasa persaudaraan serta kepeduliaan antar sesama pendaki lainya. Setiap mendaki gunung gue selalu merasa punya keluarga baru :D huuuhhh indahnya)).
Untuk gue pribadi sudah memutuskan untuk mencoba mendaki ke puncak Gunung Semeru malam nanti, tentu dengan segala macam resiko di dalamnya. Kumpulan tekad dan latihan, baik raga maupun mental akan gue uji disini, tidak lupa tentu dengan terus memohon pertolongan dari sang Pencipta Alam Raya, karena tanpa izin & pertolonganya gue ini tak punya daya dan upaya.
Saat sampai di Kalimati tiba – tiba kabut datang menyelimuti, gue pun mendirikan tenda dan memasukan barang kedalamnya, yang kemudian dilanjut dengan memasak air untuk membuat minuman hangat dan menyimpan beberapa mililiter kedalam thermos (thermos atau insulated bottle yang mumpuni gue rasa sangat perlu untuk kenyamanan mendaki gunung, karena jika dengan gelas/botol biasa kurang dari 10 menit air mendidih sudah dingin kembali).
Gue mendirikan tenda tepat disamping tenda tim Bang boing yang saat itu anggotanya belum lengkap, karena masih tertinggal Yadi & nadia saat berjalan menuju kalimati. Kami mendirikan tenda + 25 meter dari papan tanda Pos Kalimati, yang kalau umumnya pendirian kemah dilakukan dekat shelter kalimati yang berjarak + 240 meter kearah tenggara dari papan tanda Pos Kalimati tadi. Kami memilih tempat ini karena viewnya menghadap ke Semeru langsung.
saat gue masak air kabut tiba-tiba hilang dan gue malah khilaf berfoto di temani tripod. “eLLLL, makan dulu eL . .!” terdengar seru si Angga (“iiihhh perhatian bangettt si kalian :D wkwkwk”, (itulah salah satu keindahan yang gue temukan saat mendaki gunung, bukan hanya view dari landscapenya yang keren tapi juga dari rasa persaudaraan serta kepeduliaan antar sesama pendaki lainya. Setiap mendaki gunung gue selalu merasa punya keluarga baru :D huuuhhh indahnya)).
Ketika gue makan nasi bungkus yang gue beli saat di basecamp + 7 jam lalu(sekarang udah dingin kaya baru keluar dari kulkas),
Terdengarlah suara mulyadi yang teriak dari arah trek kalimati (lokasi tenda kami agak ke barat +7 meter dari trek (trek/jalur; tanah agak padat yang tidak ditumbuhi rumput karena sering di injak saat pendaki melangkah ), bersahutanlah kami dengan si Mulyadi yang nampak kebingungan mencari tenda kami saat sampai di kalimati, karena saat itu banyak tenda yang berdiri disana.
Ketika hari mulai gelap (setelah maghrib) munculah tanpa disangka-sangka tim tanggerang 3 (bang irfan a.k.a jono, ikmal, langlang), mereka yang kami sangka akan bermalam di Ranu Kumbolo ternyata tetap melanjutkan perjalanan. “Aduhh lama nih gue, si ikmal kakinya kambuh terus(kram otot)...” keluh langlang, dan mereka pun mendirikan tenda di antara tenda - tenda kami.
Kalo di perhatikan pada foto di atas(foto tim bang boing sedang makan depan tenda), tenda tempat gue bernaung saat itu(tenda berwarna orens) berada tepat di bawah pohon berikat kain putih. “Beuhhh, horor juga nih spot tempat gue bikin tenda...” hati kecil gue bergumam sambil memandang ke atas pohon. ditambah gue malah jadi inget sharing temen alumni semeru saat sebelum gue berangkat, dia bilang “Semeru itu mistisnya kentel banget tau...” .
Tapi Alhamdulillah dari pengalaman pertama mendaki sampai saat ini gue enggak pernah melihat atau mengalami hal – hal berbau mistis, pernah sekali mengalami parno parah dan merinding gitu saat mendaki Puncak 2 Gunung Salak akhir 2016 lalu, dan hal itu malah gue rasain saat sudah di bawah, saat keluar pintu rimba (pintu rimba; sebutan untuk batas antara vegetasi hutan dengan jalan perkampungan/ladang penduduk) saat ingin pulang, meskipun tidak ada kejadian apa-apa hanya guenya baper aja mungkin :D jiaaahhh.
Sekitar pukul 19. gue sudah izin dengan teman teman untuk tidur duluan, hal itu gue lakukan karena gue pribadi punya gejala anemia & hipotensi (;tekanan darah rendah / anonim dari Hypertensi), yang apabila gue kurang tidur kepala akan terasa sedikit pusing dan akan mengalami blur vision(yakilahh bilang “mata kunang-kunang” aja ribeudzz lu, bwahahaA ) Blur vision kadang gue alami beberapa saat jika bangun untuk berdiri secara mendadak setelah duduk/merebah agak lama(jika kurang tidur). Sebelum tidur enggak lupa gue minum vitamin pembantu pertumbuhan trombosit (walaupun gak ada yang ngingetin :( ). Dan malam itu gue pun tidak tidur sendiri, Bang Boing meminta izin 1 pasukanya untuk tidur di barak gue (si fahrul), “oke bang ! gue rapihin barang dulu yak...” setelah rapih gue pun tidur bersama fahrul, yang mana gue yang izin tidur duluan malah si fahrul yang duluan pules :D bhakkk ~.
23.00 “ELLL bangun ELLLL...!” terdengar suara Angga dari luar dengan diiringi tenda gue yang sedikit berguncang (di tepuk-tepuk si angga), “Ucettt udah jam 11 aja ini...” ujar gue yang kerasanya kaya baru tidur 10 menit -_- (padahal mah tidurnya hampir 4 jam), “YAA!, this is the time guys !” waktu untuk bersiap pengujian diri melakukan perjalanan ke puncak tempat bersemayamnya para dewa (dalam kepercayaan Hindu puncak Gunung Semeru di anggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa sehingga diberi nama “Mahameru”).
“And whattttt !!! tengah malem trekking ke puncak ?!!”, Ya benar ! proses summit attack Gunung semeru memang di lakukan saat tengah malam (summit attack;istilah untuk proses pendakian menuju puncak gunung), dikarenakan waktu ideal untuk berada di puncak Gunung Semeru itu maksimal pukul 9-10 pagi dan awamnya pendaki membutuhkan waktu 6 jam untuk mencapai puncak(bisa lebih/kurang tergantung banyak faktor, selain juga karena mengincar sunrise juga si sebenernya). Jika lebih dari pukul 9-10 pagi akan sangat berbahaya, di karenakan saat hari mulai siang angin akan berubah arah, berhembus ke utara dan membawa semburan material serta gas yang berpotensi mengandung racun dari kawah Jonggring Saloko ke arah puncak Semeru (lokasi kawah semeru berada di sebelah selatan dari puncak ).
# Minggu, 02 Juli 2017
Setelah bangun – makan – dan mempersiapkan perlengkapan untuk summit attack kami semua berkumpul (tim bang boing, tim bang jono dan gue) untuk berdoa bersama.
Pukul 00. Lebih sedikit kami memulai langkah kaki meninggalkan tenda, dalam perjalanan menuju puncak
kami melewati bangunan shelter kalimati, setelah itu kondisi trek mulai memasuki kawasan hutan, beberapa menit trekking tiba-tiba perasaan gue gak enak.
Hal itu bukan karena ada hal mistis yang gue rasakan melainkan saat gue obok-obok kantong celana & jaket “HP ku ra ono...!” :-O (Hp gak ada) , BT banget sumpah udah lumayan jauh jalan. Gue pun izin balik ke tenda sama teman-teman lain “Bang gue balik ke tenda yaa, Hp gue ketinggalan nih kayanya....” , “Oke eL, Hati – hati ya..” sahut teman-teman. Tapi batin gue si ragu ini ketinggalan apa jatuh di trek Hp gue “O EM Jiiiiii.....!!!” (Oh My God !!!!) tekad gue yang membara mendadak ngedown dan galau .
Gue pun kembali ke arah tenda. Jalan sendirian tengah malam di kegelapan Kalimati, boro-boro setan, macan aja gue gak takut saat itu ! dikarenakan galau parah, +15menit gue sampai di depan tenda dan Alhamdulillah masih rezeki gue. Gue menemukan Hp tersebut tergeletak di atas rumput yang dibasahi embun (Belakangan gue inget, sebelum berangkat kantung jaket gue tidak tertutup dan saat gue benerin sepatu Hp merosot keluar dan jatuh tanpa gue sadari).
Berdoa lagi kemudian gue jalan sendiri dari tenda menuju trek menuju puncak, saat itu jam sudah menunjukan hampir stengah satu dini hari, dan trek sudah mulai sepi dikarenakan sudah banyak yg jauh di depan.
00.41 gue
sampai lagi di dekat bangunan shelter kalimati untuk kemudian masuk trek hutan,
beruntung disini gue bertemu 2 pendaki asal Sidoarjo kalo enggak salah (yang gue
juga lupa namanya :D bahhh), udah bener dapet temen & gue rasa juga tempo
langkah gue sudah melambat tetapi jarak dengan kedua pendaki tadi semakin
menjauh, gue malah ngeluyur duluan. Sekitar setengah jam gue ketemu lagi dengan
si Syahrul ,ikmal dan langlang yang sedang istirahat
“Lah udah sampai sini aja lo, lari lo yak ..?!” tanya syahrul & langlang.
“Hahh !? enggak kok jalan biasa, yang lain mana?” tanya gue,
“Udah jalan didepan” sahut mereka.
“Lah udah sampai sini aja lo, lari lo yak ..?!” tanya syahrul & langlang.
“Hahh !? enggak kok jalan biasa, yang lain mana?” tanya gue,
“Udah jalan didepan” sahut mereka.
Gue pun memutuskan buat jalan lagi, saat itu di trek
agak padat merayap (maklum musim liburan), karena trek lumayan
sempit dengan cerukan di kanan kiri jalur jadilah agak sulit jika kita ingin
mendahului pendaki di depan kita yang kelelahan. Di Tambah kondisi
trek yang sudah mulai lumayan curam dengan kemiringan + 45°
serta mulai berpasir.
Mulai dari sini sampai puncak kondisi trek berupa pasir gembur & bebatuan yang tidak stabil, sesuai dengan isi briefing saat di basecamp “kita disarankan untuk tidak menjadikan batu sebagai pegangan atau dijadikan tumpuan untuk melangkah naik, karena batu dapat menggelinding kebawah dan bisa berbahaya bagi pendaki di bawah kita “. Tidak sedikit korban meninggal di trek ini yang di akibatkan oleh terhantam batu yang menggelinding dari atas. Kecelakaan terbaru akibat tertimpa batu ini terjadi bulan Mei tahun 2017 lalu ::
(“Korban bernama Anthina Sumartina Isvandri asal Jakarta tersebut tewas.
Kabar tewasnya Anthina dibenarkan oleh Neil Banderas, rekan satu komunitas pendakian dengan korban, yakni Taruna Pecinta Alam (Trupala).
"Kejadiannya pada saat naik menuju puncak. Kan banyak yang naik ke atas, tiba-tiba dari atas ada batu yang jatuh ke bawah kemudian menimpa korban. Batunya besar seukuran setengah badan manusia," kata Neil saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (14/5/2017).
Neil mengatakan, batu tersebut mengenai bahu korban. Melihat kejadian itu, beberapa pendaki sempat melakukan evakuasi korban.
"Korban dievakuasi, dibawa ke basecamp Kalimati. Tapi, nyawa korban tidak tertolong," kata Neil.](sumber : news.detik.com).
Meski banyak memakan korban, saat beberapa meter melangkah di trek ini gue malah ketawa kecil sendiri :D kwkwkwk, “beuhhh ini nih trek greget yang banyak gue baca dari catatan perjalanaan pendakian Gunung Semeru..” gumam gue dalam hati. Kalau kata kakak-kakak pembriefing saat masih di basecamp :
“bukan Cuma Jakarta doang yang punya jalur three in one, tapi semeru juga punya !, jadi teman-teman nanti saat melangkah naik 3 kali akan merosot kembali ketempat langkah pertama” bwkwkwkK dan itu benar gue alami saat itu.
Menit – menit awal gue trekking masih semangat dan gue merasa tertantang. Tapi setelah + 15 menit jalan nanjak merosot - jalan nanjak lagi & merosot lagi semangat gue perlahan kendor dan gue terus memompa motivasi dalam diri. gue pun beberapa kali istirahat (gue bisa istirahat setiap 10-15menit sekali setelah trekking nanjak).
Setelah istirahat gue putuskan untuk kembali nanjak dan mulai mematok target, “Pokoknya gue ga akan istirahat lebih dari 5 menit...! ” bisik dalam hati. Beberapa saat mendaki gue bertemu bang jono yang sedang duduk di kemiringan punggung Semeru, tapi gue bilang untuk lanjut.
Jadi saat nanjak di lereng ini gue kebanyakan sendiri karena tim bang Boing dan bang jono pun terpisah-pisah (yang sebenernya kalo nanjak dengan tim, terpisah seperti ini sangat tidak baik!), jadi urutanya gini : Bang boing, fahrul, syahrul angga berada paling depan dalam komplotan kami (terpisah jarak 30 menit dari gue) - kemudian gue – lalu bang jono(gue & bang jono beda tipis dan sering bersimpangan saat diantara kita istirahat) - kemudian ikmal & langlang _ dan terakhir mulyadi & nadia.
02.20 Gue istirahat(lagi) kemudian minum air hangat dari thermos serta mengisi perut dengan kurma & coklat s*ickers yang entah kenapa bener-bener ga nafsu sama sekali buat makanya. Mendekati shubuh angin mulai berhembus agak kencang dan buat suhu makin dingiiiiinnn.
*Istirahat di trek pasir lereng semeru (terlihat bintik putih di bagian tengah sebelah kiri foto,
itu merupakan nyala headlamp/senter pendaki yang masih berada di bawah).
Saat
isirahat gue pandangi kebawah banyak terlihat bintik-bintik nyala lampu
headlamp dari pendaki yang masih berada di bawah. dan gue pun menegaskan dalam
diri “Kalo loe mau mikir nyerah. Lihat berapa langkah yang udah loe
buat dari rumah buat kesini...!” kata-kata itu gue tanem dalam hati,
dan Alhamdulillah selama pendakian gak timbul rasa drop mental sama
sekali (tapi kalo capek mah pastii lah yaa).
Selain tawa, di trek ini pun gue sempat teteskan air mata dimana saat trek sendiri mendadak gue introspeksi diri, (“gue yang selama ini sering angkuh dan sombong merasa kuat !. yang padahal tanpa pertolongan-Nya gue gak akan bisa apa-apa, serta disini juga ajal terasa sangat dekat hanya butuh satu kecerobohan, dan gue pun bisa ~ lewatttt ~ (;die) ”).
Debu dari langkah pendaki di atas gue sesekali buat kelilipan dan sesak. Pakai buff untuk menutup hidung, nafas malah jadi susah, tapi buka buff idung gue jadi dingiiinnn banget kaya di tempelin es, “beuhh, jadi serba salah” .
04.19 Gue duduk untuk break lagi. Keluarin thermos minum air anget “fuhhhhh, nikmatnyaaa.....”, kemudian gue pun tayamum(bersuci dengan debu dalam kondisi tertentu pengganti wudhu dengan air) yang kemudian sejenak absen pagi kepada sang pencipta serta mohon keselamatan dan kelancaran pendakian setelahnya. Lalu di lanjut nanjak lagi.
Selain tawa, di trek ini pun gue sempat teteskan air mata dimana saat trek sendiri mendadak gue introspeksi diri, (“gue yang selama ini sering angkuh dan sombong merasa kuat !. yang padahal tanpa pertolongan-Nya gue gak akan bisa apa-apa, serta disini juga ajal terasa sangat dekat hanya butuh satu kecerobohan, dan gue pun bisa ~ lewatttt ~ (;die) ”).
Debu dari langkah pendaki di atas gue sesekali buat kelilipan dan sesak. Pakai buff untuk menutup hidung, nafas malah jadi susah, tapi buka buff idung gue jadi dingiiinnn banget kaya di tempelin es, “beuhh, jadi serba salah” .
04.19 Gue duduk untuk break lagi. Keluarin thermos minum air anget “fuhhhhh, nikmatnyaaa.....”, kemudian gue pun tayamum(bersuci dengan debu dalam kondisi tertentu pengganti wudhu dengan air) yang kemudian sejenak absen pagi kepada sang pencipta serta mohon keselamatan dan kelancaran pendakian setelahnya. Lalu di lanjut nanjak lagi.
Sekitar hampir pukul 5 pagi fajar mulai meyingsing, dan puncak Mahameru sudah terlihat beberapa puluh meter di atas gue :D serta view silhouet kawasan Tengger yang uwawWWW bingitzzz. tapi yang gue fikirkan sa’at itu sebenernya pengin cari tempat buat pipis “kebelet coii..!” . Nyari celah tertutup tapi kok ya banyak orang lewat jadilah gue jalan terus dan gak kerasa puncak tinggal beberapa langkah.
05.30 Tepat air mata kembali menetes karena saat itu gue di Izinkan Allah untuk menapaki kaki di tanah tertinggi Pulau Jawa (maklumlah gue kan cowo melow, bwakakakaAkkK najong! ), lelah trekking 5 jam mendaki dari kalimati & kebelet pipis pun gue udah lupa. Cari-cari bang boing dan lainya yang udah summit dari jam 5 pun belum ketemu (YA mereka memang summit termasuk sangat pagi, mau adzan shubuh di puncak kayanya :D hwahaAha), yaudah gue foto – foto aja dulu + karena kebelet mulai tak tertahankan, gue jalan ke ujung pinggiran puncak cari spot buat p*pis (“Bismillah, maaf numpang p*pis, (btw ini p*pis di tanah tertinggi yang pernah gue lakuin loh,, bhakkK ~).
Muter – muter + foto di puncak gue akhirnya ketemu Angga. Terhitung lebih dari 3 Lap gue muterin puncak semeru bahahaA, “Sayang coiii udah jauh – jauh dari Depok masa ga keliling-keliling.. :D”, [ ► dokumentasi saat sampai di puncak ] si Angga yang gue ajak foto-foto terlihat gak bersemangat, di karenakan dia sudah terlalu lama di puncak dan sudah mulai kedinginan. Dan gue pun bertemu bang jono yang kemudian disusul ikmal dan langlang setelah beberapa menit, & sekalian aja gue minta tolong buat fotoin di plat tanda puncak Mahameru :D (narsis dulu kita) .
*kawah Jonggring Saloko batuk
di lanjut ngerekam video & foto – foto di
setiap sudut puncak. Sesekali gue liat orang berkumpul di bibir puncak sebelah
selatan untuk mengabadikan moment kawah Jonggring Saloko yang sedang batuk, gue
pun sempat mengabadikan moment tersebut.
*foto dengan background gunung kepolo tepat di belakang gue, dan kawasan bromo di pojok kanan atas yang terlihat dari kejauhan
Ada kejadian sedikit koplak di puncak, jadi saat gue
sibuk dengan tongsis dan pencarian angle foto yang pas, “ gue
kan balik badan tiba-tiba dan hampir saja menabrak seorang pendaki asing yang
berdiri tepat di belakang ”, sontak gue kaget dan sok-sok’an ngobrol SKSD(sok kenal sok deket,wkwkwkk) dengan
english gue yang amburadull :D wkakakak, setelah basa-basi
belakangan diketahui si om ini asalnya dari France bernama om Guilleum ibellog,
dia mendaki bersama temanya yang berasal dari Malang. Tapi saat di puncak sih
gue liat dia sendirian aja.
07.xx Gue memutuskan buat turun duluan
dengan bang jono (si ikmal & langlang masih di atas), baru 5 menit
turun gue merasa melihat view yang ajib & gue pun kumat buat foto-foto,
tapi ”Waittttt, remote shutter gue mana..?!”, kekoplakan lain
terjadi. Feeling gue tuh remote ketinggalan di dekat plat tanda puncak, gue pun
jalan naik lagi ke puncak, muter-muter dikit ke spot yang tadi gue tempatin
untuk foto belom ketemu, gue coba buat agak ketengah ke puncak-pasnya Semeru.
Dan benar saja remote gue ada disana dengan sedikit terkubur pasir.
“ELLL, bukanya udah turun lo ?” tanya langlang saat melihat gue.
“Iya tadi udah, eh pas udah jalan dikit gue cari-cari remote shutter gue ketinggalan jatuh d puncak...”
“Aaah lo eL ketinggalan melulu, semalem Hp....”
“Bahahaaaaaa iya nih, lah lo sendiri katanya mau nyusul turun, tapi malah masih di puncak?”
“Memori card kamera gue error el foto-foto ilang semua, yaudah jadi gue naik lagi buat foto-foto di puncak Mahameru, sayang udah jauh-jauh...”
“BwahahahaA,, koplak lo “ :D ternyata kejadian mereka lebih na’as.
07.17 Kali ini gue beneran turun, saat menuruni sebuah cerukan di lereng dekat puncak gue melihat dua pendaki sedang berfoto ria yang buat gue mupeng, perlahan gue deketin mereka
“Bang kalo minta tolong fotoin boleh gak bang ?“
“wohhh boleh-boleh bang, nih temen saya fotographer..”
“beuhhh mantappp, dari mana nih bang...”
“Dari Depok bang gue..” sahut mereka.
“Jiaaahhh, sama bang saya juga Depok, depoknya mana bang?...” jawab gue
“Sawangan bang gue..” (bwakakakAK, jauh-jauh ke Semeru ketemunya orang sawangan :D)
Setelah berfoto gue pun beneran turun. “Tapi teteupp sekalian jalan turun foto-foto juga sih, Wkwkwkkk”.
“ELLL, bukanya udah turun lo ?” tanya langlang saat melihat gue.
“Iya tadi udah, eh pas udah jalan dikit gue cari-cari remote shutter gue ketinggalan jatuh d puncak...”
“Aaah lo eL ketinggalan melulu, semalem Hp....”
“Bahahaaaaaa iya nih, lah lo sendiri katanya mau nyusul turun, tapi malah masih di puncak?”
“Memori card kamera gue error el foto-foto ilang semua, yaudah jadi gue naik lagi buat foto-foto di puncak Mahameru, sayang udah jauh-jauh...”
“BwahahahaA,, koplak lo “ :D ternyata kejadian mereka lebih na’as.
07.17 Kali ini gue beneran turun, saat menuruni sebuah cerukan di lereng dekat puncak gue melihat dua pendaki sedang berfoto ria yang buat gue mupeng, perlahan gue deketin mereka
“Bang kalo minta tolong fotoin boleh gak bang ?“
“wohhh boleh-boleh bang, nih temen saya fotographer..”
“beuhhh mantappp, dari mana nih bang...”
“Dari Depok bang gue..” sahut mereka.
“Jiaaahhh, sama bang saya juga Depok, depoknya mana bang?...” jawab gue
“Sawangan bang gue..” (bwakakakAK, jauh-jauh ke Semeru ketemunya orang sawangan :D)
Setelah berfoto gue pun beneran turun. “Tapi teteupp sekalian jalan turun foto-foto juga sih, Wkwkwkkk”.
Trek turun dekat puncak masih di dominasi dengan
cerukan lereng gunung yang lumayan dalam dengan di bumbui batu lumayan besar
yang tidak stabil. Makin turun ketengah punggung Semeru, jalur makin terlihat
lebar, saat turun perjalanan terasa lebih ringan karena sedikit pergerakan dari
kaki akan membuat kita merosot kebawah, tetapi kita juga harus fokus ke arah
pohon berikat kain orens cerah, karena itu merupakan patokan untuk turun dengan
jalur yang benar, terlalu bergeser ke kanan atau kiri beberapa derajat saja
bisa membuat kita mengarah ke jurang di lereng semeru yang terkenal dengan
nama “Blank 75” (jurang dengan kedalaman 75 meter / lebih).
Saat turun ada beberapa
pendaki yang agak berlari, yang mana hal tersebut merupakan tindakan berbahaya,
karena jika sedikit saja hilang kestabilan atau tersandung batu dia bisa jatuh
berguling-guling di lereng dangan kemiringan lebih dari 45˚ ini. Karena kepulan
debu yang di akibatkan dari pendaki yang agak berlari tersebut gue pun
memutuskan berhenti sejenak untuk menunggu hilangnya kepulan pasir di trek.
Saat gue istirahat gue bertemu si langlang dan ikmal yang menyusul gue turun
dan mereka pun gue persilahkan jalan duluan karena gue udah terasa amat sangat
lelah. Disini gue berjalan amat sangat slow dan sempat beristirahat juga di
batas vegetasi (tempat pohon berikat kain orens yang menjadi patokan
untuk turun).
Setelah batas vegetasi trek
kembali terasa teduh karena ditutupi rimbunya pohon cemara, semakin mendekati
pos kalimati trek semakin landai. Beberapa menit sebelum pos kalimati dari arah
puncak gue menjumpai warga yang berjualan minuman , nasi bungkus, buah semangka
dan gorengan. Gue memutuskan buat beli gorengan dan buah semangka, yang tidak
disangka ternyata tim bang jono sedang berkumpul untuk makan.
“Lah bang masih disini lo..?” tanya gue,
“iya nih el lemes banget gue, si ikmal juga kurang enak badan dia m*ntah munt*h terus..” jawab bang jono & langlang.
Disana kami berhenti cukup lama sekitar 15 menit mungkin.
09.53 Setelah +2,5 jam trekking turun dengan sangat slow akhirnya kita sampai di tempat mendirikan tenda di pos kalimati, saat gue tiba bang Boing dan timnya sudah mulai melipat tenda & packing. Gue dan tim bang jono memustuskan buat istirahat dulu dan memasak. Setelah kami berfoto bersama gue dan tim bang jono berpamitan dengan tim bang Boing yang izin untuk trekking duluan menuju Ranu Pane.
“Lah bang masih disini lo..?” tanya gue,
“iya nih el lemes banget gue, si ikmal juga kurang enak badan dia m*ntah munt*h terus..” jawab bang jono & langlang.
Disana kami berhenti cukup lama sekitar 15 menit mungkin.
09.53 Setelah +2,5 jam trekking turun dengan sangat slow akhirnya kita sampai di tempat mendirikan tenda di pos kalimati, saat gue tiba bang Boing dan timnya sudah mulai melipat tenda & packing. Gue dan tim bang jono memustuskan buat istirahat dulu dan memasak. Setelah kami berfoto bersama gue dan tim bang jono berpamitan dengan tim bang Boing yang izin untuk trekking duluan menuju Ranu Pane.
Dari hasil ngobrol sebelum
pamit, ternyata Mulyadi dan Nadia tidak mencapai puncak di karenakan Nadia yang
memang kurang termotivasi untuk mencapai puncak dan mulyadi pun menemaninya
untuk turun(mulyadi sudah dua kali ke Semeru
jadi dia bertugas back up atau menjadi sweeper tim bang boing), Saat
tim bang boing mulai berangkat turun duluan gue memutuskan untuk memasak mie
instant begitu juga tim bang jono yang memasak beberapa makanan. Setelah kita
makan bersama Bang jono,ikmal dan langlang memutuskan untuk tidur.
Saat itu sekitar pukul 11 siang, gue yang merasa tanggung untuk tidur memilih untuk merapihkan barang-barang dan melipat tenda, tempat di sekitar kami mendirikan tenda pun mulai sepi dikarenakan sudah banyak yang mulai meninggalkan pos Kalimati untuk trekking turun.
Setelah dzuhur dan selesai packing gue membangunkan bang jono untuk izin berpamitan trekking turun duluan.
13.42 gue memulai jalan trekking sendiri untuk turun dengan target langsung menuju basecamp. Di trek saat itu cukup sepi karena memang bisa di bilang gue terlalu siang buat trekking turun, saat di pos Jambangan gue sempat berhenti buat benerin strap tas yang dirasa agak kurang nyaman + sekalian menyiapkan tongsis di sisi tas yang mudah di jangkau (bakal lewat spot keren coiy soalnya).
Selama di jalan gue sesekali bertemu pendaki yang baru saja naik ke arah pos Kalimati termasuk juga 2 pendaki asing wanita asal france yang mengikuti style pendaki Indonesia (“Say hello ketika berpapasan dengan pendaki lain di trek…” yang kemudian gue kepoin :D wkwkwkk). Selain itu saat turun gue juga menemukan pemandangan unik, mungkin karena trek yang mulai sepi, banyak burung yang bertengger di dahan pohon cukup rendah tepat di atas kepala gue ”Beuhhhh, rasanya fresh banget liat pemandangan kaya gini..”.
Saat itu sekitar pukul 11 siang, gue yang merasa tanggung untuk tidur memilih untuk merapihkan barang-barang dan melipat tenda, tempat di sekitar kami mendirikan tenda pun mulai sepi dikarenakan sudah banyak yang mulai meninggalkan pos Kalimati untuk trekking turun.
Setelah dzuhur dan selesai packing gue membangunkan bang jono untuk izin berpamitan trekking turun duluan.
13.42 gue memulai jalan trekking sendiri untuk turun dengan target langsung menuju basecamp. Di trek saat itu cukup sepi karena memang bisa di bilang gue terlalu siang buat trekking turun, saat di pos Jambangan gue sempat berhenti buat benerin strap tas yang dirasa agak kurang nyaman + sekalian menyiapkan tongsis di sisi tas yang mudah di jangkau (bakal lewat spot keren coiy soalnya).
Selama di jalan gue sesekali bertemu pendaki yang baru saja naik ke arah pos Kalimati termasuk juga 2 pendaki asing wanita asal france yang mengikuti style pendaki Indonesia (“Say hello ketika berpapasan dengan pendaki lain di trek…” yang kemudian gue kepoin :D wkwkwkk). Selain itu saat turun gue juga menemukan pemandangan unik, mungkin karena trek yang mulai sepi, banyak burung yang bertengger di dahan pohon cukup rendah tepat di atas kepala gue ”Beuhhhh, rasanya fresh banget liat pemandangan kaya gini..”.
14.49 Sampailah di pos Cemoro kandang, disini gue istirahat
sekalian jajan buah semangka. Saat istirahat gue bertemu dengan
2 pendaki dari dua tim yang berbeda yang mengalami accident saat
turun dari puncak, yang satu mengalami luka berdarah cukup lebar pada
keningnya, yang belakangan setalah gue cari tau dia terbentur batu saat
trekking turun dari puncak di lereng semeru & satu pendaki dari tim
lainya tak mampu berjalan dan harus berada di dalam tandu, di karenakan mengalami luka
dalam yang disebabkan saat menuruni lereng dengan agak ngebut dan
tidak sanggup menghentikan laju dirinya saat ada pendaki di depannya, sehingga
dia banting arah dan terjatuh sehingga bahunya terbentur batu cukup keras (namun
pendaki ini bukan yang berpapasan dengan gue saat turun dari puncak dengan agak
berlari).
15.08 Melintaslah di Oro-oro ombo. Kali ini gue
memilih jalur yang berbeda dari saat berangkat, jalur yang gue lalui ketika
pulang ialah dengan berjalan di punggungan bukit pinggiran Oro-oro ombo
sebelah timur (jalur dengan tanda biru pada
foto ini (klick)).
15.24 Setelah trekking 15 menit dari Oro – oro ombo
sampailah gue di Ranu Kumbolo, ada sekitar 30 tenda nampak disana. Gue memilih
buat istirahat sejenak menikmati Ranu Kumbolo yang cerah sore itu sambil
mengisi perut dengan gorengan yang gue beli + di mix dengan sosis instant (sisa logistik yang gue planning untuk pendakian 4 hari).
Ketika melanjutkan trekking dari Ranu kumbolo gue berpapasan dengan cukup
banyak pendaki yang baru akan naik.
*cerahnya sore kala itu (view jalur setelah pos 3)
16.36 saat sampai di pos 3. Gue juga masih banyak menjumpai para pendaki yang baru akan menuju Ranu Kumbolo. Dikarenakan saat menuju pos dua dan satu hari mulai gelap (menjelang maghrib), gue pun mempercepat langkah, di trek arah turun saat itu hanya ada gue berdua dengan seorang ibu penjual yang akan menuju ke desa sepertinya. Namun saat di pos satu si ibu itu berhenti dan gue tetep melanjutkan perjalanan.
+ 70 meter setelah pos satu gue duduk sejenak agak lama, selain istirahat gue juga sekalian menunggu rombongan tim lain yang akan turun. Sebab di trek semeru itu tidak dianjurkan untuk melakukan trekking sendiri saat hari mulai gelap, dikarenakan banyak hewan liar yang mulai beraktifitas saat hari gelap (macan tutul & macan kumbang salah satunya). Sekitar 10 menit duduk lewatlah 3 pendaki asal purwodadi yang kemudian gue jalan bareng dengan mereka.
19.03 setelah + 5 jam trekking dari Kalimati, akhirnya gue bisa merasa lega karena bisa sampai dengan selamat serta tanpa cedera di basecamp Ranu Pani, meskipun kondisi sudah malam. Sampai di basecamp gue langsung melapor ke loket pendakian (saat musim libur lebaran 2017 loket buka sampai 21.00),
“Pak saya mau melapor turun duluan (yang kemudian menunjukan sampah yang gue bawa), jadi nanti ketua tim(bang jono) sampahnya lebih sedikit dari yang terdaftar di form karena sudah di bawa turun bertahap dengan saya dan 6 orang(tim bang boing) yang sudah turun duluan tadi sore pak .”
“Oke gapapa, nanti sampahnya di buang di sebelah sana ya (sambil menunjuk motor pick up beroda 3 pengangkut sampah), trus sekarang kondisi temanya dimana?”
“Sedang trekking pak di belakang tetapi agak jauh..” jawab gue.
Sebelum terjadi percakapan di atas sebenernya gue agak menunggu sebentar. Si om pengurus administrasi pendakian sedang berkordinasi. Dari suara yang enggak sengaja gue denger dia sedang mengkoordinasikan evakuasi untuk pendaki yang mengalami cedera melalui radio komunikasi (evakuasi untuk pendaki yang gue jumpai saat di Cemoro Kandang).
Tadinya gue mau cari makan karena laper, tapi gue mengurungkan niat tersebut. Karena gue fikir kalo terlalu malam baru turun menuju kota Malang kendaraan akan sulit. Gue pun jalan agak menurun menuju lapangan parkir tempat berkumpulnya jeep yang berada +300 meter dari basecamp pendakian, saat itu di dekat parkiran jeep gue jumpai truk yang biasa mengangkut sayur yang sudah terisi sekitar 13 pendaki dengan kondisi mesin menyala. Gue pun merapat kesana mencari tau apakah bisa gue gabung dengan mereka,
“Mas kalo 1 orang join bisa enggak ..?” tanya gue ke pak sopir.
“Hayo mas, 1 orang bisa…” jawab si bapak.
Dan gue pun join naik truk tersebut. Kondisi langit malam saat perjalanan menaiki truk amat sangat indah, berjuta bintang gue saksikan di langit yang bersih dengan sesekali di hiasi dengan meteor yang bisa gue lihat dengan mata telanjang, dikarenakan polusi cahaya disini sangat minim, “Sungguh benar-benar perjalanan malam dengan view terkerennn yang pernah gue lakukan ….!”.
sekitar pukul 21.20 gue sudah sampai di pasar tumpang, Malang. Kemudian dari pasar Tumpang gue mendapat saran dari rekan pendaki asal Semarang (maaf gue lupa namanya), bahwa kalo dari Terminal Surabaya banyak bis malam menuju Jakarta. Dari terminal Arjosari Malang gue pun naik bus menuju Terminal Surabaya, kemudian mencari bus menuju jakarta. (planning awal naik bus langsung dari Malang menuju Jakarta pada keberangkatan esok harinya gue urungkan karena masih gambling atas ketersediaan seat.)
Selasa, 04 juli 2017
- - - - -
Terimakasih banyak sudah membaca^ ^
mohon maaf masih banyak kekurangan disana-sini
semoga dapat memberikan manfaat
~ ~ ~ ~ ~
Rangkuman catatan waktu pendakian ::
#Sabtu, 1 Juli 2017 #
10.03 Start hike dari
gerbang pendakian 10.58 Pos.1
11.19 Pos.2
11.38 Watu rejeng 2350mdpl
12.11 Pos.3
13.16 Ranu Kumbolo 2400mdpl
14.05 oro-oro ombo
14.21 Pos Cemoro Kandang 2500mdpl
15.58 Pos Jambangan 2600mdpl
16.29 Kalimati 2700mdpl (ranupani - kalimati 6,5Hour)
#Minggu, 02 Juli 2017 #
00.41 Start pendakian
menuju Puncak Mahameru01.56 Batas vegetasi (dekat bekas cemoro tunggal)
05.30 Summit Done (puncak Mahameru)
07.17 Berangkat Turun ke kalimati
09.53 sampai Pos Kalimati
13.42 start turun dari kalimati to ranupani
14.49 cemoro kandang
15.08 oro-oro ombo (perbatasan cemoro kandang)
15.24 Ranu kumbolo
16.36 Pos.3
19.03 Tiba di Bc Ranupani
#Biaya administrasi
& Transport di Malang dari &
menuju Basecamp
Gunung Semeru, Juli 2017 ~
Sewa Angkot (Stasiun Malang Kota baru - tempat jeep) : Rp 120.000,- / 10org = @Rp 12.000,-
Sewa jeep (Dekat pasar Tumpang - Basecamp Ranu pani ) : Rp 600.000,- / 10org = @Rp 60.000,-
tiket pendakian 2 hari : Rp 22.500,- x 2 = Rp 45.000,-
Naik truk (Basecamp Ranu Pani - Pasar Tumpang ) : @Rp 55.000,-
Bus Malang - Surabaya : Rp 25.000,-


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar